Powered By Blogger
Showing posts with label Doctor In Medical Notes. Show all posts
Showing posts with label Doctor In Medical Notes. Show all posts

Thursday, March 29, 2012

WANITA DAN KEUNIKAN MENSTRUASI

     Aku seorang wanita… sebuah pernyataan klasik yang sangat dibutuhkan dalam pembuktian eksistensi identitas kita di lingkungan manapun. Di tengah kehidupan yang dinamis saat ini, semua manusia tentunya mengetahui bahwa Tuhan yang maha esa menggolongkan kita ke dalam dua jenis kelamin secara normal yakni pria dan wanita (diluar dari jenis kelamin abu-abu buatan manusia). Pria biasanya diidentikkan dengan penis dan skrotum, disisi lain wanita selalu dikaitkan dengan vagina. Hal tersebut menjadi basic dalam penentuan jenis kelamin dari seorang manusia sejak pertama kali dilahirkan di dunia. Seiring dengan pertambahan umur, terjadi beberapa perkembangan fisik pada kedua jenis kelamin yang menandai bahwa manusia telah memasuki masa akil balig (dewasa) yang secara medis dikenal dengan masa pubertas. Pubertas menjadi titik awal dari kematangan fungsi reproduksi manusia, yang merupakan salah satu ciri makhluk hidup secara alami dalam rangka pelestarian species manusia (Homo Sapiens).
     Aku seorang wanita… mengharuskanku mengetahui tentang wanita… so ladies, “this is an important information for us”. Tahukah kita??? Masa pubertas wanita dimulai sejak umur 8-10 tahun, dimulai dengan perkembangan payudara dan pertumbuhan rambut pubis yang terjadi dalam 5 tahap (berdasarkan staging Tanner dan Marshall). Puncak dari pubertas wanita adalah menarke (menstruasi pertama kali) yang terjadi secara normal sejak umur 12 tahun. Menstruasi merupakan perdarahan per-vagina yang terjadi secara siklik dan reguler pada wanita dewasa. Dalam masyarakat umum, tanda inilah yang menjadi batasan jelas perubahan status seorang anak perempuan menjadi gadis remaja. Tak jarang, banyak ibu-ibu yang memberikan nasehat kepada anak gadisnya mengenai perubahan keadaan fisik tersebut pada saat menarke. Hal ini sebagai salah satu edukasi kepada sang anak bahwa telah terjadi kematangan reproduksi dalam tubuhnya sehingga sangat diperlukan kesadaran diri dalam pergaulan keseharian. Tentunya dengan edukasi tersebut diharapkan dapat mencegah kejadian pernikahan dini ataupun kehamilan di luar nikah pada usia dini mengingat kematangan reproduksi tidak bersamaan dengan kematangan mental.
     Pada dasarnya menstruasi merupakan suatu fenomena bulanan berupa perdarahan per-vagina yang terjadi oleh karena kerja sama ritmik dari beberapa hormon dalam tubuh wanita dewasa. Perdarahan tersebut merupakan hasil peluruhan dari dinding endometrium uterus (rahim) yang disertai dengan pengeluaran ovum (sel telur). Sama dengan regulasi hormon lainnya, hormon pada menstruasi melibatkan aksis Hipotalamus-Hipofisis-Ovarium (sistem tiga hormon). Secara spesifik hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus adalah GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone), kemudian hormon hipofisis adalah FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone), serta hormon yang dihasilkan oleh ovarium adalah estrogen dan progesteron. Hormon-hormon tersebut bekerja pada ovarium dan uterus (rahim).
     Mekanisme kerja dari hormon tersebut diawali dengan sekresi GnRH oleh hipotalamus, yang akan merangsang produksi hormon LH dan FSH hipofisis. Kedua hormon hipofisis ini menstimulasi sekresi estrogen di ovarium. FSH dengan kadar basal telah memiliki peran yang cukup dalam produksi estrogen, sebaliknya LH membutuhkan jumlah yang banyak untuk melakukan hal tersebut. Oleh karena itu, pada proses menstruasi, LH akan terlihat lebih dominan dibandingkan FSH. Di ovarium, estrogen dihasilkan oleh folikel, yang berkembang karena adanya FSH dan LH. Estrogen itu sendiri juga turut berperan dalam perkembangan folikel tingkat lanjut sampai mencapai kematangan (fase folikularis). Ukuran folikel berbanding lurus dengan jumlah estrogen yang dihasilkan, dimana pada masa folikularis akhir jumlah estrogen yang dihasilkan juga semakin besar. Peningkatan kadar estrogen ini akan menstimulasi hipotalamus untuk mempercepat denyut GnRH agar meningkatkan sekresi LH oleh hipofisis sehingga terjadi lonjakan LH pada saat itu (mekanisme feedback positif). Selanjutnya lonjakan LH ini akan menghentikan sekresi estrogen oleh folikel fungsional (folikel de Graff) yang telah matang. Kemudian membran folikel tersebut akan ruptur dan melepaskan ovum yang terdapat dalam folikel ovarium. Masa pelepasan ovum ini disebut dengan masa ovulasi. Setelah itu, folikel sisa yang terdapat dalam ovarium dengan bantuan FSH dan LH akan membentuk korpus luteum yang mensekresi progesteron dalam jumlah banyak dan estrogen dalam jumlah sedikit (fase luteal). Kadar progesteron semakin lama akan semakin meningkat dan akan mengirimkan sinyal ke hipotalamus untuk menghambat sekresi LH secara gradual (mekanisme feedback negatif). Lalu korpus luteum mengalami degenerasi dan atresia yang akhirnya berubah menjadi jaringan parut (fibrosis) oleh karena semakin berkurangnya pembuluh darah. Korpus luteum yang fibrosis ini disebut dengan korpus albikan (fase luteal akhir). Bersamaan dengan degenerasi korpus luteum, produksi progesteron dan estrogenpun berkurang hingga basal, menyebabkan penghambatan sekresi LH dan FSH berakhir sehingga dimulailah kembali produksi kedua hormon tersebut yang juga menandakan awal mula suatu siklus menstruasi yang baru.
     Semua regulasi hormon yang dijelaskan di atas terjadi di ovarium, tempat pembentukan sel telur (ovum). Secara umum pada semua sistem dalam tubuh manusia, regulasi hormon selalu melibatkan mekanisme feedback negatif yang merupakan bagian dari homeostasis tubuh. (Click this... untuk animasi interaktif jalur biokimia penghambatan hormon dalam mekanisme feedback negatifInilah yang menjadi keunikan dari sistem reproduksi wanita, dimana terdapat mekanisme feedback positif yang bertujuan untuk mencapai masa ovulasi (biasanya 14 hari setelah menstruasi). Dengan adanya pelepasan ovum (sel telur) pada masa ovulasi menjelaskan bahwa masa subur pada wanita terjadi pada masa ini. Oleh karena itu ladies… Be watch out for this period… (Click this… untuk animasi interaktif mengenai keunikan mekanisme feedback positif pada sistem reproduksi wanita)
Then… Tahukah kamu ladies… asal perdarahan saat menstruasi???
     This is the big question… Perdarahan saat menstruasi merupakan efek kerja dari hormon-hormon tersebut di atas terhadap dinding endometrium uterus (rahim). Setiap siklus menstruasi terjadi selama 28 hari secara normal, sehingga biasanya wanita mengalami perdarahan sekali sebulan. Siklus menstruasi terbagi atas 3 fase berdasarkan pada perubahan dinding uterus yang terjadi. Fase pertama adalah fase menstruasi. Patut diketahui bahwa hari pertama perdarahan merupakan awal perhitungan dari sebuah siklus menstruasi (waktunya sama dengan fase luteal akhir ovarium). Pada fase ini, kadar estrogen dan progesteron menurun oleh karena degenerasi korpus luteum, sehingga akan menstimulasi pengeluaran prostaglandin yang memiliki efek kerja terhadap pengecilan pembuluh darah (vasokontriksi) uterus. Hal ini akan mengurangi suplai oksigen uterus dan berdampak pada kematian sel serta pembuluh darah di dalamnya. Kemudian, oleh karena adanya disintegrasi dari pembuluh darah, maka akan membilas semua debris jaringan endometrium  serta ovum yang telah dilepas ovarium,  keluar dari rongga uterus melewati vagina yang dikenal sebagai darah haid. Selain terjadi secara mekanik oleh pergerakan darah, prostaglandin akan merangsang uterus berkontraksi yang juga membantu pengeluaran darah pada fase menstruasi. Terkadang kontraksi dari uterus ini dapat menimbulkan rasa nyeri (dismenorea) bahkan pada sebagian wanita rasa nyeri ini dianggap sebagai sebuah gejala yang cukup mengganggu. Fase menstruasi terjadi selama 5-7 hari.
     Lapisan endometrium yang tersisa dari bilasan darah pada fase menstruasi hanya berukuran sekitar 1 mm. Di sisi lain, FSH dan LH oleh hipofisis kembali disekresi  dan membantu perkembangan folikel di ovarium. Dalam 7 hari folikelpun mulai memproduksi estrogen, dimana estrogen ini akan membantu penebalan (proliferasi) sisa lapisan endometrium tersebut (fase proliferasi). Penebalan endometrium dapat mencapai ukuran 3-5 mm. Fase proliferasi ini didominasi oleh estrogen yang akan mencapai puncaknya sampai lonjakan LH terjadi (masa ovulasi ovarium). Oleh karena itu, fase proliferasi uterus (rahim) terjadi mulai dari akhir perdarahan sampai masa ovulasi ovarium. Selanjutnya, kadar estrogen menurun digantikan oleh peningkatan kadar progesteron. Progesteron akan melengkapi perkembangan endometrium yang telah dilakukan oleh estrogen, dengan membentuk jalinan pembuluh darah  serta menstimulasi sekresi glikogen oleh sel endometrium. Hal ini bertujuan untuk mempersiapkan uterus (rahim) dalam proses implantasi zigot kalau konsepsi terjadi. Itulah sebabnya fase ini disebut dengan fase sekretorik atau fase progestasional. Pada waktu ovum tidak dibuahi, konsepsi tidak terjadi, korpus luteum akan berdegenerasi dan akhirnya memasuki fase menstruasi kembali yang ditandai dengan perdarahan pada bulan berikutnya. (Click this to see menstruation cycle video... Indonesia Version)

Sunday, December 25, 2011

CLINICAL PRACTICE COMPANION

Baru-baru ini, NEJM telah meluncurkan sebuah buku koleksi spesial yang berisi kumpulan artikel terbaik dan terbaru yang dapat menjadi pedoman bagi semua dokter dalam menangani pasien di praktek sehari-hari. Produk NEJM ini merupakan elektronik book yang dibuat dalam format PDF yang cukup simple dan mudah. Keistimewaannya adalah semua artikelnya memperlihatkan cara diagnosis dan manajemen penyakit yang berdasarkan pada guideline terbaru. Selain itu, yang paling penting, informasi mengenai pilihan manajemen dan pengobatan penyakit yang terdapat di dalamnya merupakan pilihan terbaik, serta memiliki gambar, tabel dan diagram yang cukup menarik, sehingga tidak membosankan kita untuk membacanya. Artikel kedokteran di dalam buku ini terdapat dalam beberapa model berupa Clinical Practice, Clinical Therapeutik, dan Current Concept. Pada akhir buku, terdapat dua buah artikel dengan model unik yakni artikel yang disertai dengan video (multimedia) dan artikel yang disajikan dalam bentuk interaktif medical.

Hanya dengan copy-paste ke tablet, semua informasi yang terdapat dalam buku ini telah bisa dicicipi dimanapun dan kapanpun. Catatan penting yang harus diketahui adalah semua pengguna tablet, terlebih dahulu harus menginstall adobe reader pada tabletnya baik yang menggunakan windows microsoft maupun yang menggunakan Machintosh. Tidak hanya itu, pengguna laptop dan komputer konvensionalpun bisa memanfaatkannya. Namun, oleh karena terdapat video serta interaktif medical pada e-book ini, mengharuskan kita tuk selalu stay chun terhadap internet... So... This one is very easy in all tablet user... asal account pulsanya jangan lupa di upgrade.

Finaly… This is it...

CLINICAL PRACTICE COMPANION

Graphic1

Click The Image Above to Download

Friday, December 23, 2011

PENGENALAN INSTRUMEN DASAR BEDAH MINOR

Created by Fitria Ningsih M.D.
Based On Minor Surgery written by Robert Kneebon dan Julia Schofield.  

Dokter umum merupakan profesi kedokteran yang melingkupi skala yang cukup luas dan meliputi semua sistem dalam tubuh manusia, sehingga hanya menyentuh area superfisial dalam proses pengobatan. Meskipun demikian, peran dari dokter umum itu sendiri cukup penting oleh karena menduduki posisi primer dalam pelayanan kesehatan di masyarakat, itulah sebabnya seorang dokter umum harus memiliki pengetahuan serta skill tindakan yang memadai sesuai dengan kompetensinya secara keseluruhan. Salah satu skill yang paling penting dikuasai dalam praktek keseharian adalah bedah minor. Hal ini dikarenakan jumlah kasus yang memerlukan tindakan ini cukup tinggi di masyarakat. Pengalaman penulis mendapatkan bahwa dari 10 pasien yang datang berobat terdapat 3 kasus yang memerlukan prosedur tindakan ini. Umumnya komplikasi dari kasus ini tidak begitu banyak, namun jika tidak ditangani secara tepat dapat berakhir ke kematian khususnya untuk kasus dengan perdarahan yang cukup besar atau kasus disinfeksi yang tidak sempurna.
Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan oleh British Medical Association (BMA), menyebutkan bahwa  di Inggris, prosedur tindakan bedah minor telah sering dilakukan oleh dokter umum dan cukup populer di kalangan pasien serta memiliki biaya yang cukup tinggi. Berdasarkan Health Authority (1990), dokter umum telah memiliki kewenangan untuk melakukan bedah minor dan mendapatkan pembayaran dari tindakan ini. Bahkan pada tahun 2004, dokter umum di Inggris dapat meningkatkan dan memperluas kompetensi tindakan bedah minornya dengan cara membayar komisi kepada Pengatur Penambahan Pelayananan (Directed Enhance Service-DES). Di Indonesia, cakupan pelayanan bedah minor yang dapat dilakukan oleh seorang dokter umum cukup beragam, mulai dari tindakan hecting luka terbuka, insisi, eksisi, ekstraksi, kauterisasi dan lain sebagainya. Umumnya tindakan ini dilakukan dengan anastesi lokal dengan tehnik anastesi yang sesuai dengan kasus yang dihadapi.
Pelaksanaan prosedur bedah minor mengharuskan seorang dokter umum mengetahui beberapa pengetahuan dasar mengenai tindakan ini. Pengetahuan dasar tersebut berupa instrumen bedah minor, bahan serta tehnik disinfeksi dan tehnik menjahit jaringan. Artikel ini hanya berbatas pada pengenalan instrumen bedah minor dasar yang merupakan pengetahuan pertama yang harus dimiliki oleh seorang dokter dalam melakukan tindakan ini. Untuk pengetahuan lainnya akan dijelaskan dalam artikel yang berbeda.
Instrumen dasar bedah minor terbagi atas empat berdasarkan fungsi, yakni instrumen dengan fungsi memotong (pisau scalpel + pegangan dan beragam jenis gunting), instrumen dengan fungsi menggenggam (pinset anatomi, pinset cirrhurgis dan klem jaringan), instrumen dengan fungsi menghentikan perdarahan (klem arteri lurus dan klem mosquito), serta instrumen dengan fungsi menjahit (needle holder,benang bedah, dan needle). 
Minor surgery Tools Complete
   Gambar 1: Instrumen Dasar Bedah Minor
Kesemua intrumen tersebut akan dijelaskan secara detail sebagai berikut:
A.  Instrumen Dengan Fungsi Memotong
1.    Pisau Scalpel + Pegangan
Scalpel merupakan mata pisau kecil yang digunakan bersama pegangannya. Alat ini bermanfaat dalam menginsisi kulit dan memotong jaringan secara tajam. Selain itu, alat ini juga berguna untuk mengangkat jaringan/benda asing dari bagian dalam kulit. Setiap pisau scalpel memiliki dua ujung yang berbeda, yang satu berujung tajam sebagai bagian pemotong dan yang lainnya berujung tumpul berlubang sebagai tempat menempelnya pegangan scalpel. Cara pemasangannya: pegang area tumpul pisau dengan needle-holder dan hubungkan lubang pada area tersebut pada lidah pegangan sampai terkunci (terdengar bunyi). Cara pelepasan: pegang ujung pisau dengan needle-holder dan lepaskan dari lidah pegangan, kemudian buang di tempat sampah. Pegangan scalpel yang sering digunakan adalah yang berukuran 3 yang dapat digunakan bersama pisau scalpel dalam ukuran beragam. Sedangkan pisau scalpel yang sering digunakan adalah yang berukuran no.15. Ukuran no.11 digunakan untuk insisi abses dan hematoma perianal. Pegangan scalpel digunakan seperti pulpen dengan kontrol maksimal pada waktu pemotongan dilakukan. Dalam praktek keseharian, pegangan scalpel biasanya diabaikan sehingga hanya memakai pisau scalpel. Hal ini bisa diterima dengan pertimbangan pisaunya masih dalam keadaan steril (paket baru) dan harus digunakan dengan pengontrolan yang baik agar tidak menimbulkan kerusakan jaringan sewaktu memotong.
 
2.    Gunting
Pada dasarnya gunting mengkombinasikan antara aksi mengiris dan mencukur. Mencukur membutuhkan aksi tekanan halus yang saling bertentangan antara ibu jari dan anak jari lainnya. Gerakan mencukur ini biasanya dilakukan oleh tangan dominan yang bersifat tidak disadari dan berdasarkan insting. Sebaiknya gunakan ibu jari dan jari manis pada kedua lubang gunting. Hal ini akan menyebabkan jari telunjuk menyokong instrumen pada waktu memotong sehingga kita dapat memotong dengan tepat. Selain itu, penggunaan ibu jari dan jari telunjuk pada lubang gunting biasanya pengontrolannya berkurang. Jenis-jenis gunting berdasarkan objek kerjanya, yakni gunting jaringan (bedah), gunting benang, gunting perban dan gunting iris.
a.       Gunting Jaringan (bedah)
Gunting jaringan (bedah) terdiri atas dua bentuk. Pertama, berbentuk ujung tumpul dan berbentuk ujung bengkok. Gunting dengan ujung tumpul digunakan untuk membentuk bidang jaringan atau jaringan yang lembut, yang juga dapat dipotong secara tajam. Gunting dengan ujung bengkok dibuat oleh ahli pada logam datar dengan cermat. Pemotongan dengan gunting ini dilakukan pada kasus lipoma atau kista. Biasanya dilakukan dengan cara mengusuri garis batas lesi dengan gunting. Harus dipastikan kalau pemotongan dilakukan jangan melewati batas lesi karena dapat menyebabkan kerusakan.
b.      Gunting Benang (dressing scissors)
Gunting benang didesain untuk menggunting benang. Gunting ini berbentuk lurus dan berujung tajam. Gunakan hanya untuk menggunting benang, tidak untuk jaringan. Gunting ini juga digunakan saat mengangkat benang pada luka yang sudah kering dengan tehnik selipan dan sebaiknya pemotongan benang menggunakan bagian ujung gunting. Hati-hati dalam pemotongan jahitan. Jika ujung gunting menonjol keluar jahitan, terdapat resiko memotong struktur lainnya.
c.       Gunting Perban
Gunting perban merupakan gunting berujung sudut dengan ujung yang tumpul. Gunting ini memiliki kepala kecil pada ujungnya yang bermanfaat untuk memudahkan dalam memotong perban. Jenis gunting ini terdiri atas knowles dan lister. Bagian dasar gunting ini lebih panjang dan digunakan sangat mudah dalam pemotongan perban. Ujung tumpulnya didesain untuk mencegah kecelakaan saat remove perban dilakukan. Selain untuk membentuk dan memotong perban sesaat sebelum menutup luka, gunting ini juga aman digunakan untuk memotong perban saat perban telah ditempatkan di atas luka. (wikipedia)
d.      Gunting Iris
Gunting iris merupakan gunting dengan ujung yang tajam dan berukuran kecil sekitar 3-4 inchi. Biasanya digunakan dalam pembedahan ophtalmicus khususnya iris. Dalam bedah minor, gunting iris digunakan untuk memotong benang oleh karena ujungnya yang cukup kecil untuk menyelip saat remove benang dilakukan. (dictionary online) 
 
B.  Instrumen Dengan Fungsi Menggenggam
3.    Pinset Anatomi
Pinset Anatomi memiliki ujung tumpul halus. Secara umum, pinset digunakan oleh ibu jari dan dua atau tiga anak jari lainnya dalam satu tangan. Tekanan pegas muncul saat jari-jari tersebut saling menekan ke arah yang berlawanan dan menghasilkan kemampuan menggenggam. Alat ini dapat menggenggam objek atau jaringan kecil dengan cepat dan mudah, serta memindahkan dan mengeluarkan jaringan dengan tekanan yang beragam. Pinset Anatomi ini juga digunakan saat jahitan dilakukan, berupa eksplorasi jaringan dan membentuk pola jahitan tanpa melibatkan jari. (wikipedia)
 
4.    Pinset Chirurgis
Pinset Chirurgis biasanya memiliki susunan gigi 1x2 (dua gigi pada satu bidang). Pinset bergigi ini digunakan pada jaringan; harus dengan perhitungan tepat, oleh karena dapat merusak jaringan jika dibandingkan dengan pinset anatomi (dapat digunakan dengan genggaman halus). Alat ini memiliki fungsi yang sama dengan pinset anatomi yakni untuk membentuk pola jahitan, meremove jahitan, dan fungsi-fungsi lainnya.(wikipedia)
 
5.    Klem Jaringan
Klem jaringan berbentuk seperti penjepit dengan dua pegas yang saling berhubungan pada ujung kakinya. Ukuran dan bentuk alat ini bervariasi, ada yang panjang dan adapula yang pendek serta ada yang bergigi dan ada yang tidak. Alat ini bermanfaat untuk memegang jaringan dengan tepat. Biasanya dipegang oleh tangan dominan, sedangkan tangan yang lain melakukan pemotongan, atau menjahit. Cara pemegangannya: klem dipegang dalam keadaan relaks seperti memegang pulpen dengan posisi di tengah tangan. Banyak orang yang memegang klem ini dengan salah, yang memaksa lengan dalam posisi pronasi penuh dan menyebabkan tangan menjadi tegang. Dalam penggunaannya, hati-hati merusak jaringan. Pegang klem selembut mungkin, usahakan genggam jaringan sedalam batas yang seharusnya. Klem jaringan bergigi memiliki gigi kecil pada ujungnya yang digunakan untuk memegang jaringan dengan kuat dan dengan pengontrolan yang akurat. Hati-hati, kekikukan pada saat menggunakan alat ini dapat merusak jaringan. Kemudian, klem tidak bergigi juga memiliki resiko merusak jaringan jika jepitan dibiarkan terlalu lama, karena klem ini memiliki tekanan yang kuat dalam menggenggam jaringan. 
 
C.  Instrumen Dengan Fungsi Menghentikan Perdarahan
6.    Klem Arteri
Pada prinsipnya, klem arteri bermanfaat untuk menghentikan perdarahan pembuluh darah kecil dan menggenggam jaringan lainnya dengan tepat tanpa menimbulkan kerusakan yang tidak dibutuhkan. Secara umum, klem arteri dan needle-holder memiliki bentuk yang sama. Perbedaannya pada struktur jepitan (gambar 2), dimana klem arteri, struktur jepitannya berupa galur paralel pada permukaannya dan ukuran panjang pola jepitannya sampai handle agak lebih panjang dibanding needle-holder. Alat ini juga tersedia dalam dua bentuk yakni bentuk lurus dan bengkok (mosquito). Namun, bentuk bengkok (mosquito) lebih cocok digunakan pada bedah minor.
Cara penggunaan: klem arteri memiliki ratchet pada handlenya. Ratchet inilah yang menyebabkan posisi klem arteri dalam keadaan terututup (terkunci). Ratchet umumnya memiliki tiga derajat, dimana pada saat penutupan jangan langsung menggunakan derajat akhir karena akan mengikat secara otomatis dan sulit untuk dilepaskan. Pelepasan klem dilakukan dengan cara pertama harus ditekan ke dalam handlenya, kemudian dipisahkan handlenya sambil membuka keduanya. Sebaiknya gunakan ibu jari dan jari manis karena hal ini akan menyebabkan jari telunjuk mendukung instrumen bekerja sehingga dapat memposisikan jepitan dengan tepat.
Jepitan klem arteri berbentuk halus dengan galur lintang paralel yang membentuk chanel lingkaran saat instrumen ditutup. Jepitan ini berukuran relatif panjang terhadap handled yang memungkinkan genggaman jaringan lebih halus tanpa pengrusakan. Jepitan dengan ujung bengkok (mosquito) berfungsi untuk membantu pengikatan pembuluh darah. Jangan menggunakan klem ini untuk menjahit, oleh karena struktur jepitannya tidak mendukung dalam memegang needle.
 
D.  Instrumen Dengan Fungsi Menjahit
7.    Needle Holder
Needle holder bermanfaat untuk memegang needle saat insersi jahitan dilakukan. Secara keseluruhan antara needle holder dan klem arteri berbentuk sama. Handled dan ujung jepitannya bisa berbentuk lurus ataupun bengkok. Namun, yang paling penting adalah perbedaan pada struktur jepitannya (gambar 2). Struktur jepitan needle holder berbentuk criss-cross di permukaannya dan memiliki ukuran handled yang lebih panjang dari jepitannya, untuk tahanan yang kuat dalam menggenggam needle. Oleh karena itu, jangan menggenggam jaringan dengan needle holder karena akan menyebabkan kerusakan jaringan secara serius.
Cara penggunaan: cara menutup dan melepas sama dengan metode ratchet yang telah dipaparkan pada penggunaan klem arteri di atas. Needle digenggam pada jarak 2/3 dari ujung berlubang needle, dan berada pada ujung jepitan needle-holder. Hal ini akan memudahkan tusukan jaringan pada saat jahitan dilakukan. Selain itu, pemegangan needle pada area dekat dengan engsel needle holder akan menyebabkan needle menekuk. Kemudian, belokkan needle sedikit ke arah depan pada jepitan instrumen karena akan disesuaikan dengan arah alami tangan ketika insersi dilakukan dan tangan akan terasa lebih nyaman. Kegagalan dalam membelokkan needle ini juga akan menyebabkan needle menekuk.
Tehnik menjahit: jaga jari manis dan ibu jari menetap pada lubang handle saat menjahit dilakukan yang membatasi pergerakan tangan dan lengan. Pegang needle holder dengan telapak tangan akan memberikan pengontrolan yang baik. Secara konstan, jangan mengeluarkan jari dari lubang handled karena dapat merusak ritme menjahit. Pertimbangkan pergunakan ibu jari pada lubang handled yang menetap, namun manipulasi lubang lainnya dengan jari manis dan kelingking.
Graphic1
Gambar 2. Perbedaan Struktur Jepitan Antara Klem Jaringan, Klem arteri dan Needle Holder
 
8.    Benang Bedah
Benang bedah dapat bersifat absorbable dan non-absorbable. Benang yang absorbable biasanya digunakan untuk jaringan lapisan dalam, mengikat pembuluh darah dan kadang digunakan pada bedah minor. Benang non-absorbable biasanya digunakan untuk jaringan tertentu dan harus diremove. Selain itu, benang bedah ada juga yang bersifat alami dan sintetis. Benang tersebut dapat berupa monofilamen (Ethilon atau prolene) atau jalinan (black silk). Umumnya luka pada bedah minor ditutup dengan menggunakan benang non-absorbable. Namun, jahitan subkutikuler harus menggunakan jenis benang yang absorbable.
Black silk adalah benang jalinan non-absorbable alami yang paling banyak digunakan. Meskipun demikian, benang ini dapat menimbulkan reaksi jaringan, dan menghasilkan luka yang agak besar. Jenis benang ini harus dihindari, karena saat ini telah banyak benang sintetis alternatif yang memberikan hasil yang lebih baik. Luka pada kulit kepala yang berbatas merupakan pengecualian, oleh karena penggunaan jenis benang ini lebih memuaskan.
Benang non-abosrbable sintetis terdiri atas prolene dan ethilon (nama dagang). Benang ini berbentuk monofilamen yang merupakan benang terbaik. Jenis benang ini cukup halus dan luwes dan menghasilkan sedikit reaksi jaringan. Namun, jenis benang ini lebih sulit diikat dari silk sehingga sering menyebabkan jahitan terbuka. Masalah ini dapat diselesaikan dengan menggunakan tehnik khusus seperti menggulung benang saat jahitan dilakukan atau mengikat benang dengan menambah lilitan. Prolene (monofilamen polypropylene) dapat meningkatkan keamanan jahitan dan lebih mudah diremove dibandingkan dengan Ethilon (monofilamen polyamide).
Catgut merupakan contoh terbaik dalam kelompok benang absorbable alami. Jenis benang ini merupakan monofilamen biologi yang dibuat dari usus domba dan sapi. Terdapat dua macam catgut, plain catgut dan chromic catgut. Plain catgut memiliki kekuatan selama 7-10 hari. Sedangkan chromic catgut memiliki kekuatan selama 28 hari. Namun, kedua jenis benang ini dapat menghasilkan reaksi jaringan.
Benang absorbable sintetis terdiri atas vicryl (polygactin) dan Dexon (polyclycalic acid) yang merupakan benang multifilamen. Benang ini berukuran lebih panjang dari catgut dan memiliki sedikit reaksi jaringan. Penggunaan utamanya adalah untuk jahitan subkutikuler yang tidak perlu diremove. Selain itu, juga dapat digunakan untuk jahitan dalam pada penutupan luka dan mengikat pembuluh darah (hemostasis).
Terdapat dua sistem dalam mengatur penebalan benang, yakni dengan sistem metrik dan sistem tradisional. Penomoran sistem metrik sesuai dengan diameter benang dalam per-sepuluh milimeter. Misalnya, benang dengan ukuran 2 berarti memiliki diameter 0.2 mm. Sistem tradisional kurang rasional namun banyak yang menggunakannya. Ketebalan benang disebutkan menggunakan nilai nol misalnya 3/0, 4/0, 6/0 dan seterusnya. Paling besar nilainya, ketebalannya semakin kecil. 6/0 merupakan nomor dengan diameter paling halus yang tebalnya seperti rambut, digunakan pada wajah dan anak-anak. 3/0 adalah ukuran yang paling tebal yang biasa digunakan pada sebagian besar bedah minor. Khususnya untuk kulit yang keras (kulit bahu). 4/0 merupakan nilai pertengahan yang juga sering digunakan.
Dalam suatu paket jahitan, terdapat semua informasi mengenai benang dan needlenya secara lengkap di cover paketnya. Setiap paket jahitan memiliki dua bagian luar, pertama yang terbuat dari kertas kuat yang mengikat pada cover transaparan. Paket jahitan ini dijamin dalam keadaan steril sampai covernya terbuka. Oleh karena itu, saat membuka paket, simpan ke dalam wadah steril. Bagian kedua yakni amplop yang terbuat dari kertas perak yang dibasahi pada satu sisinya. Basahan ini memudahkan paket jahitan dipisahkan dari kertas tersebut. Kemudian dengan menggunakan needle-holder, angkat needle tersebut dari lilitannya dan luruskan secara hati-hati. Kemudian, gunakan untuk tindakan penjahitan.
Rekomendasi bahan jahitan yang dapat digunakan adalah monofilamen prolene atau Ethilon 1,5 metrik (4/0) untuk jahitan interuptus pada semua bagian. Monofilamen prolene atau ethilon 2 metrik (3/0) untuk jahitan subkutikuler non-absorbable. Juga dapat digunakan untuk jahitan interuptus pada kulit yang keras misalnya pada bahu. Vicryl 2 metrik (3/0) digunakan pada jahitan subkutikuler yang absorbable dan jahitan dalam hemostasis. Vicryl 1,5 metrik (4/0) digunakan untuk jahitan subkutikuler jaringan halus atau jahitan dalam. Prolene atau Ethilon 0,7 (6/0) untuk jahitan halus pada muka dan pada anak-anak.
 
9.    Needle bedah
Saat ini bentuk needle bedah yang digunakan oleh sebagian besar orang adalah jenis atraumatik yang terdiri atas sebuah lubang pada ujungnya yang merupakan tempat insersi benang. Benang akan mengikuti jalur needle tanpa menimbulkan kerusakan jaringan (trauma). Pada needle model lama memiliki mata dan loop pada benangnya sehingga dapat menimbulkan trauma. Needle memiliki bagian dasar yang sama, meskipun bentuknya beragam. Setiap bagian memiliki ujung, yakni bagian body dan bagian lubang tempat insersi benang. Sebagian besar needle berbentuk kurva dengan ukuran ¼, 5/8, ½ dan 3/8 lingkaran. Hal ini menyebabkan needle memiliki range untuk bertemu dengan jahitan lainnya yang dibutuhkan. Ada juga bentuk needle yang lurus namun jarang digunakan pada bedah minor. Needle yang berbentuk setengah lingkaran datar digunakan untuk memudahkan penggunaannya dengan needle holder.

Wednesday, December 7, 2011

HIPETENSI BERDASARKAN JNC 7

Hipertensi merupakan penyakit degeneratif yang kian tahun, jumlah penderitanya semakin bertambah. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh institusi “Framingham Heart” yang menemukan bahwa penduduk yang memiliki tekanan darah yang normal, memiliki resiko sebesar 90% untuk menderita hipertensi di usia 50 tahun. Kemudian data statistik menyebutkan bahwa pravalensi hipertensi di Amerika Serikat sebesar 50 juta, dan 1 milyar untuk penduduk di seluruh dunia. Indonesia khususnya, pravalensi hipertensi sebesar 31,7% dari total seluruh jumlah penduduk dewasa Indonesia (RISKESDA, 2007), dimana diperkirakan masih terdapat 76% penduduk yang belum terdiagnosis dan mendapatkan penanganan. Kemudian Profil Kesehatan Indonesia 2008 menyebutkan bahw hipertensi merupakan penyebab penyakit terbanyak ketiga setelah stroke dan TB dengan persentase sebesar 6,8%.
Secara klinik, hipertensi adalah skala tekanan darah yang melebihi level 130 mmHg untuk tekanan sistolik dan 90 mmHg untuk tekanan diastolik, dengan kadar normal tekanan darah adalah 120/80 mmHg. Tekanan darah yang tinggi ini memiliki hubungan yang cukup erat, kontinu, konsisten, dan independen dengan resiko penyakit kardiovaskuler, misalnya serangan jantung, gagal jantung, stroke dan penyakit ginjal. Untuk individu yang berumur 40-70 tahun, jika mengalami kenaikan 20 mmHg tekanan sistolik dan 10 mmHg tekanan diastolik, memiliki resiko dua kali lipat untuk mendapatkan penyakit kardiovaskuler dengan peningkatan tekanan dari skala 115/75 mmHg sampai skala 185/115 mmHg. Berdasarkan dari fenomena yang disebutkan di atas, sejak 3 dasawarsa yang lalu, National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) telah bekerjasama dengan National High Blood Pressure Education Program (NHBPEP), juga berkoalisi dengan 39 profesional utama, organisasi masyarakat yang sadar akan hipertensi dan tujuh agensi federal untuk membuat pedoman penanganan hipertensi secara global. Fungsi dari guideline ini adalah untuk meningkatkan kesadaran, pencegahan, pengobatan dan pengontrolan hipertensi. Semuanya termaktub dalam Joint National Committee on the Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC).
JNC 6 telah dikeluarkan sejak tahun 1997, yang telah didukung oleh banyak percobaan klinik yang terpublikasi. Namun, sejak tahun 2003, JNC 6 telah direvisi menjadi JNC 7 dengan pertimbangan: (1) telah terdapat penemuan-penemuan terbaru mengenai hipertensi baik yang berupa observasi maupun percobaan klinik, (2) dibutuhkannya sebuah guideline yang baru, jelas dan ringkas yang bermanfaat untuk klinisi, (3) dibutuhkannya penyederhanaan klasifikasi tekanan darah, (4) pengakuan jelas bahwa laporan JNC sebelumnya tidak digunakan untuk kebaikan pengobatan maksimum. Laporan JNC dibuat dalam 2 bentuk publikasi yang berbeda. Bentuk pertama berisi pedoman terbaru yang praktis dan ringkas. Kemudian bentuk kedua selain berisi pedoman, juga dilengkapi dengan beberapa penelitian komprehensif yang disertai dengan diskusi dan justifikasi secara luas. Dalam pembuatan pedoman ini, JNC mengakui bahwa tanggung jawab dokter dalam pengambilan keputusan di praktek merupakan hal yang paling penting dalam menangani pasien.
JNC 7 berisi revisi mengenai guideline terbaru penyakit hipertensi yang mencakup pencegahan dan pengelolaan pasien hipertensi. Berikut adalah kesimpulan kunci JNC 7 secara keseluruhan:
1. Pada individu yang berumur lebih dari 50 tahun, tekanan darah sistolik yang lebih dari 140 mmHg merupakan faktor resiko penyakit kardiovakuler yang lebih penting dibandingkan tekanan darah diastolik.
2. Resiko penyakit kardiovaskuler dimulai dari skala tekanan darah 115/75 mmHg dua kali lipat dengan peningkatan setiap 20/10 mmHg; Individu yang memiliki tekanan darah yang normal, pada umur 55 tahun memiliki resiko hipertensi sebesar 90%.
3. Individu dengan tekanan darah sistolik 120-139 mmHg atau tekanan diastolik 80-89 mmHg harus didiagnosis sebagai prehipertensi dan mendapatkan penanganan berupa modifikasi gaya hidup untuk mencegah penyakit kardiovaskuler.
4.    Golongan diuretik jenis Thiazide harus digunakan sebagai obat pada semua pasien dengan hipertensi tanpa komplikasi, baik penggunaan tunggal maupun kombinasi dengan golongan obat lainnya. Beberapa kondisi resiko tinggi merupakan indikasi yang mengharuskan penggunaan golongan obat-obat antihipertensi lainnya (angiotensin converting enzim inhibitor (ACEi), Angiotensin Reseptor Bloker (ARB), dan calcium chanel bloker (CCB)).
5. Sebagian besar pasien dengan hipertensi membutuhkan dua atau lebih obat-obat antihipertensi untuk mendapatkan tekanan darah target (<140/90 mmHg, atau <130/80 mmHg untuk pasien dengan diabetes dan gagal ginjal kronik).
6.   Jika tekanan darah > 20/10 mmHg di atas tekanan darah target, pertimbangan terapi inisiasi dengan dua golongan obat harus diberikan, salah satunya harus golongan obat diuretik jenis thiazide.
7.   Sebagian besar terapi diresepkan oleh klinisi secara hati-hati dan dapat mengontrol hipertensi jika pasien termotivasi. Motivasi meningkat ketika pasien memiliki pengalaman positif dengan dokter. Empati harus dimiliki oleh dokter untuk membangun kepercayaan dengan pasien dan sebagai motivator kuat.
8. Dalam pembuatan guideline ini, panitia penyusun mengakui bahwa tanggung jawab dalam keputusan pengobatan merupakan hal yang paling penting.

 

Saturday, November 26, 2011

KAPANKAH MEMULAI PENGGUNAAN KONTRASEPSI ?

Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh wanita dalam rangka merencanakan jumlah anak dalam keluarga. Hal ini sejalan dengan program keluarga berencana yang telah dicanangkan oleh pemerintah sejak akhir tahun 1970, dimana program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak dengan mewujudkan NKKBS (normal keluarga kecil bahagia sejahtera) serta dapat mengendalikan pertambahan jumlah penduduk. Saat ini, telah banyak jenis-jenis kontrasepsi yang dapat digunakan, misalnya pil, suntikan hormon, spiral (AKDR, alat kontrasepsi dalam rahim), Cincin Vagina, dan implant (susuk). Alat-alat kontrasepsi tersebut telah dapat digunakan sejak masa post-partum, mengingat masa ovulasi adalah 25 hari setelah melahirkan, sehingga pemakaian kontrasepsi lebih dini dapat mencegah interval kehamilan yang terlalu pendek yang dapat menyebabkan bayi berat lahir rendah (BBLR) dan kelahiran prematur. Meskipun demikian, tetap harus diingat bahwa pada masa post-partum terdapat perubahan fisiologi hemostasis ibu, berupa peningkatan faktor koagulasi dan fibrinogen serta penurunan faktor antikoagulan dalam tubuh secara alami. Hal ini akan meningkatkan resiko ibu untuk mengalami tromboemboli vena (TEV). Terlebih lagi beberapa kontrasepsi khususnya hormonal kombinasi memiliki andil yang cukup besar dalam resiko tersebut.
Berdasarkan Guideline penggunaan kontrasepsi yang telah disepakati oleh CDC dan WHO menyebutkan bahwa penggunaan kontrasepsi pada masa post-partum harus mempertimbangkan beberapa keuntungan serta kerugian signifikan yang bisa ditimbulkan. Secara umum, CDC menggunakan kategori 1-4 dalam penentuan penggunaan kontrasepsi. Kategori 1, tidak ada batasan penggunaan kontrasepsi. Kategori 2, keuntungan penggunaan kontrasepsi lebih banyak dibandingkan kerugiannya. Kategori 3, kerugian lebih banyak dibandingkan keutungannya serta kategori 4, larangan absolut penggunaan kontrasepsi. Untuk kontrasepsi hormonal kombinasi, kategori 4, masa < 21 hari setelah melahirkan. Larangan absolut untuk penggunaan kontrasepsi. Hal ini dikarenakan oleh keadaan hemostasis ibu yang belum berubah kembali ke level normal, dimana ditemukan meningkat pada minggu pertama setelah persalinan dan menurun ke arah normal setelah 42 hari. Pada masa 21-42 hari, terdapat kemungkinan untuk penggunaan kontrasepsi namun harus memperhatikan resiko TEV lainnya. Resiko-resiko tersebut berupa umur ibu > 35 tahun, riwayat TVE sebelumnya, transfusi saat persalinan, IMT >30, persalinan secara caesar, pre-eklamsia, dan merokok. Jika resiko ini terdapat pada ibu, maka akan masuk dalam kategori 3 dimana resiko penggunaan kontrasepsi lebih besar dari keuntungannya. Namun, jika tidak terdapat resiko-resiko tersebut maka dapat dimasukkan dalam kategori 2 dimana keuntungannnya lebih banyak dibandingkan kerugiannya, sehingga dapatlah memulai penggunaan kontrasepsi. Selanjutnya, masa 42 hari setelah melahirkan, tidak ada pembatasan untuk penggunaan kontrasepsi jenis apapun. Untuk ibu yang menyusui, terdapat sedikit perbedaan mengenai penggunaan kontrasepsi hormonal kombinasi. Hal ini disebabkan karena kontrasepsi tersebut (progesteron dan estrogen) dapat memberikan efek negatif berupa penurunan volume produksi asi yang akan berakibat pada menyingkatnya masa laktasi yang seharusnya 4-6 bulan (idealnya 1 tahun). Oleh karena itu, berdasarkan guideline, pada ibu menyusui dan dalam masa 21-30 hari post-partum  dimasukkan dalam kategori 3 (dengan ataupun tanpa resiko TEV lainnya). Kemudian, masa 30-42 hari, jika tidak terdapat resiko akan masuk dalam kategori 2. 
Untuk jenis kontrasepsi lainnya, misalnya kontrasepsi hormonal tunggal (pil, injeksi depot medroxyprogesteron asetat) dan implant (susuk) dapat dimulai pengunaannya sesegera mungkin (kategori 1 dan 2). Sedangkan untuk AKDR (spiral) bentuk levonorgestrel dan copper-bearing dapat diinsersi setelah melahirkan (10 menit setelah mengeluarkan plasenta, kategori 2). Namun, oleh karena ekspulsi AKDR sering terjadi pada masa 28 hari setelah melahirkan, penundaan sampai minggu ke empat setelah melahirkan masuk dalam kategori 1. Kemudian kondom dapat digunakan kapan saja (kategori 1) dan cincin vagina dapat digunakan setelah 6 minggu masa post-partum (kategori 1). Untuk ibu yang telah cukup anak, dipertimbangkan untuk melakukan tindakan sterilisasi.

Monday, November 7, 2011

KETENTUAN PEMBERSIHAN TANGAN BAGI TENAGA MEDIS


(Original Video: Yves Longtin, M.D, Hugo Sax, M.D, Benedetta Allegranzi, M.D, Franck Sneider, Didier Pittet M.D. Performing Medical Prosedur – Hand Hygiene. University Of Geneva Hospitals, Geneva, Switzerland. NEJM). Edited and translated by Fitria Ningsih M.D
Infeksi pada saat perawatan merupakan masalah yang paling sering ditemukan pada pasien yang sedang dalam rawat inap di rumah sakit. Diperkirakan jumlah pasien yang terjangkit infeksi saat perawatan di negara maju adalah sebesar 5-10%, dimana jumlahnya lebih besar pada negara berkembang. Menjaga kebersihan tangan adalah prosedur yang sangat penting dalam mencegah terjadinya infeksi ini, namun tenaga kesehatan yang melakukan tindakan ini hanya sekitar kurang dari 40%. Menjaga Kebersihan tangan dapat mencegah terjadinya infeksi nosokomial pada pasien dan lintas transmisi mikro organisme antar pasien serta mencegah kontaminasi lingkungan rumah sakit dari penyakit-penyakit yang memiliki tingkat patogenitas yang tinggi, misalnya: kontaminasi virus HIV dan hepatitis C.
INDIKASI
Pada membran mukosa dan kulit manusia terdapat beragam species mikro organisme secara normal. Sewaktu seseorang dalam perawatan di rumah sakit, mikro organisme ini akan menyebar ke sekeliling pasien yang dengan segera membentuk zona pasien yang terdiri dari pasien itu sendiri dan barang-barang yang berada di sekitarnya misalnya: perabotan tempat tidur. Kemudian, antara satu pasien dengan pasien yang lain akan membentuk zonanya sendiri yang di dalamnya terdapat kolonisasi beragam mikroba patogen. Untuk berpindah dari satu zona pasien ke zona pasien lainnya ataupun ke lingkungan luar, mikroba patogen ini dapat menggunakan tangan pekerja kesehatan sebagai media mobilitas. Inilah yang menjadi prinsip dasar dalam lintas transmisi mikroba patogen di rumah sakit. Oleh karena itu, Pusat Pengontrolan Dan Pencegahan Penyakit yang bekerja sama dengan WHO telah menetapkan indikasi pelaksanaan pembersihan tangan sebagai berikut:
1.    Lakukan sesaat sebelum kontak dengan pasien.
2.    Lakukan setelah kontak dengan pasien.
3.    Lakukan setelah menyentuh barang yang ada di ruang perawatan.
4.    Lakukan sesaat sebelum kontak dengan kulit yang luka (terbuka) misalnya: luka jahitan, dan mukosa.
5.    Lakukan sesaat sebelum tindakan medis misalnya: memasang infus, ETT, dan kateter urin.
6.   Lakukan setelah kontak dengan cairan tubuh, membran mukosa, kulit yang luka, dan setelah ganti perban meskipun sebelumnya telah menggunakan sarung tangan.
ALAT DAN TEHNIK
Pada dasarnya menjaga kebersihan tangan dapat dilakukan dengan dua cara yang berbeda yakni, dengan menggosokkan jari-jari tangan menngunakan cairan alkohol, serta membersihkan seluruh telapak tangan dengan sabun dan air mengalir . Bahan-bahan yang dapat digunakan untuk membersihkan tangan berupa: cairan modifikasi alkohol, sabun dan air serta alat pengering tangan. Cairan modifikasi alkohol bersifat antimikroba yang biasanya mengandung 60-80% ethanol, isopropanol dan n-propanol atau kombinasi ketiganya serta telah ada yang dicampur dengan emmolient untuk menjaga kelembaban kulit. Selain itu cairan ini disediakan dalam tiga bentuk (cairan solution atau gel, spray, dan busa) yang disimpan dalam botol berkenop di dekat area perawatan atau dikemas dalam botol kecil untuk penggunaan pribadi sehingga mempermudah penggunaannya di lapangan. Kemudian jenis sabun yang digunakan adalah sabun antimikroba yang dalam pembersihannya harus dibantu dengan air mengalir karena dapat menghilangkan mikroba dalam jumlah yang besar.
Tehnik pembersihan tangan menggunakan alkohol adalah pertama-tama tuangkan cairan alkohol ke telapak tangan kemudian gosokkan secara bersamaan ke seluruh bagian permukaan telapak tangan lalu gosok kembali ke daerah palmar. Setelah itu, gosok bagian dorsum palmar dengan membersihkan daerah interdigiti menggunakan jari sebelahnya secara bergantian dari tangan kanan ke tangan kiri atau sebaliknya. Lalu ulangi pembersihan daerah interdigiti bagian depan telapak tangan. Kemudian bersihkan bagian ujung jari belakang dengan menggunakan interlock telapak tangan sebelahnya. Dilanjutkan dengan pembersihan daerah ibu jari.  Terakhir, untuk membersihkan ujung jari bagian dalam gosok daerah ujung jari ke telapak tangan sebelahnya dan lakukan secara bergantian. Tehnik ini dilakukan dengan durasi sekitar 20-30 detik. 
Sedangkan tehnik dengan menggunakan sabun dan air mengalir adalah pertama-tama basahi kedua telapak tangan dengan air, selanjutnya tuang sabun antimikroba secukupnya. Lalu, gosok kedua telapak tangan secara bersamaan sambil menghasilkan busa dan lakukan mengenai seluruh permukaan tangan. Kemudian lanjutkan dengan langkah yang sama seperti yang dijelaskan pada tehnik alkohol sebelumnya. Setelah itu, bersihkan busa dengan menggunakan air mengalir hindari air panas karena akan meningkatkan resiko iritasi. Terakhir keringkan dengan menggunakan alat pengering ataupun gosokkan dengan lembut menggunakan tisu/kertas pengering. Jangan mengeringkan tangan dengan handuk yang pernah digunakan. Tehnik ini dilakukan dengan durasi sekitar 40-60 detik.
Diantara kedua tehnik tersebut di atas, yang paling sering digunakan adalah tehnik pertama yaitu menggosok tangan dengan alkohol. Keuntungan tehnik ini adalah tersedia di semua ruang perawatan, efek antimikrobanya lebih baik, dapat digunakan dengan segera, serta memiliki toleransi kulit yang lebih baik. Kemudian, indikasi penggunaan tehnik yang kedua adalah adanya kontaminasi darah atau cairan tubuh, adanya kontaminasi materi proteinaceaus, eksposure dari organisme spora (setelah pemeriksaan pasien dengan diare oleh karena Clostridium Dificile dan Bacillus Antraxis), dan setelah menggunakan ruang istirahat.  
PENGGUNAAN SARUNG TANGAN
Terdapat dua tujuan penggunaan sarung tangan yakni pertama untuk mencegah kontaminasi infeksi dari tangan tenaga medis ke pasien dan untuk menurunkan resiko infeksi dari pasien ke tenaga medis. Sarung tangan terdiri atas dua jenis, steril dan non-steril. Jenis steril tidak diindikasika untuk digunakan dalam kegiatan perawatan biasa. Sebaliknya, kita sering menggunakan jenis sarung tangan non-steril untuk tindakan perawatan yang melibatkan materi tubuh infeksius misalnya: darah, cairan tubuh, membran mukosa, kulit yang tidak intak, dan tindakan invasif manipulasi lainnya. Selain itu, penggunaannya dapat juga dilakukan jika menghadapi pasien dengan infeksi bakteri patogen yang bisa menular melalui sentuhan misalnya: Clostridium Difficile, resistensi meticilin oleh Staphilococcus Aureus, dan resistensi vancomicyn oleh Enterococcus. Sarung tangan tidak diperlukan untuk penggunaan pada pemeriksaan suhu dengan termometer, pemasangan kanula oksigen dan pada manipulasi selang infus. Setelah melepaskan sarung tangan diharuskan untuk membersihkan tangan dengan menggunakan cairan alkohol jika diperkirakan terdapat kemungkinan kebocoran sarung tangan atau terjadi kontaminasi saat pelepasan sarung tangan dilakukan. Kemudian, harus diingat  bahwa alkohol dapat menyebabkan kerusakan pada sarung material sarung tangan, oleh karena jangan disinfeksi tangan untuk penggunaan sarung tangan kembali. Jika seandainya dibutuhkan dibutuhkan disinfeksi, setelah melepaskan sarung tangan pertama, dilanjutkan disinfeksi tangan dengan alkohol lalu memakai sepasang sarung tangan yang baru.
PERHIASAN DAN KUKU JARI
Penggunaan perhiasan seperti cincin dan gelang dapat meningkatkan jumlah bakteri pada kulit. Jangan menggunakan perhiasan tersebut selama melakukan perawatan. Untuk cincin pernikahan, sebagai alternatif sederhana dapat disematkan pada kalung dileher, namun pada beberapa kondisi, cincin perkawinan masih bisa ditoleransi. Kemudian kuku jari yang panjang juga didapatkan bisa menyebarkan mikroba patogen. Oleh karena itu, tenaga kesehatan diharuskan untuk memiliki panjang kuku < 0,2 inchi atau 0,5 cm. Selain itu, penggunaan kuku palsu juga memiliki resiko yang sama dengan kuku yang panjang sehingga dilarang. Akan tetapi, untuk pemakaian pewarna kuku seperti kutex telah diijinkan penggunaannya. Untuk penyakit infeksi kuku seperti onikomikosis diharuskan untuk segera mendapatkan terapi dalam rangka mengurangi penyebarannya pada pasien.
EFEK SAMPING
Masalah yang paling sering ditemukan adalah iritasi. Gejalanya berupa kering, gatal, pecah-pecah, dan bahkan berdarah. Namun, pada beberapa kasus bisa juga ditemukan alergi yang menimbulkan kerusakan kulit. Untuk mencegah iritasi dapat dilakukan dengan penggunaan produk perawatan kulit sewaktu bekerja, hati-hati menggunakan bahan alkohol, hindari penggunaan air panas, tidak menggunakan sarung tangan kecuali jika dibutuhkan, dan mengeringkan tangan sebaik mungkin sebelum memasang sarung tangan. Serta yang paling berbahaya adalah alkohol dapat menstimulasi bangkitan api oleh karena memiliki komposisi yang cukup mudah terbakar. Untuk pencegahan hal ini, diharuskan mengeringkan tangan terlebih dahulu dari alkohol sebelum menyentuh objek.
LEGITIMASI AGAMA
Beberapa agama melarang penggunaan alkohol dalam kehidupan sehari-hari karena dapat menyebabkan manusia kehilangan kesadaran. Namun, oleh karena alkohol memiliki khasiat sebagai bahan antimikroba, maka telah banyak penggunaanya di lingkup bidang kedokteran. Untuk alasan yang terakhir tersebut, kalangan pemuka agama telah melegitimasi penggunaan alkohol ini di bidang kedokteran, Contohnya: agama Islam.
KESIMPULAN
1.      Membersihkan tangan merupakan prosedur yang harus dikuasai oleh semua tenaga kesehatan.
2.      Membersihkan tangan bukanlah suatu pilihan namun Aturan.
3.      Membersihkan tangan harus dilakukan secara konsisten untuk meningkatkan keamanan pasien dari
          resiko penularan penyakit oleh karena tindakan medis.
4.      Membersihkan tangan merupakan bagian dari suatu kompetensi, profesionalisme dan penghargaan.